Model-model Penafsiran dan Hermeneutika

hermes

By: Ani Rusmiyati and Endang Nurfitriyah

 

1.      Metode Tafsir Tahlili atau Analisis

Kata tahlili adalah bentuk masdar dari kata hallala-yuhallilu-tahlilan dari kata halla-yahullu-hallan. Menurut Ibn Faris, asal kata ha,lam, dan lam berarti membuka sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tertutup darinya. Sedangkan definisi penafsiran thalili adalah seorang mufasir menafsirkan bebrapa ayat Al-Qur’an sesuai susunan bacaan dan tertib susunan di dalam mushaf, kemudian baru menfsirkan baru menfsirkan dan menganalisisnya secara rinci.

Menurut Baqir as-Sadr, metode penafsiran Tahlili adalah metode dimana mufasir membahas Al-Qur’an ayat demi ayat sesuai rangkaian ayat yang tersusun di dalam Al-Qur’an.

[1] Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penafsiran tahlili adalah metode yang berupaya menafsirkan ayat demi ayat Al-Qur’an dari setiap surah-surah dalam Al-Qur’an dengan separangkat alat-alat penafsirsn  (asbabun-nuzul, muasabah, nasikh mansukh ),dalam Al-Quur’an.

2. Ciri-ciri Metode Penafsiran Tahlili

Diantara ciri-ciri dari tafsir yang menggunakan metode penafsiran tahlili adalah sebagai berikut:

  1. Mufasir menafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah secara berurutan sesuai dengan urutannya didalam mushaf.
  2. Seorang mufasir berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehensif dan menyeluruh, baik dari segi i’rob,munasabah, ayat,atau sura,asbab nuzulnya dan segi yang lainnya
  3. Dalam penafsirannya seorang mufasir menafsirkan ayat-ayat baik melalui pendekatan bil-ma’sur maupun bir-ra’yi.
  1. 2.      Metode Tafsir Ijmali

Yang dimaksud dengan metode penafsiran ijmali adalah metode menafsirkan Al-Quran dengan cara mengemukakan makna global. Dalam definisi lain adalah metode penafsiran yang menjelaskan ayat-ayat Al-Quran secara ringkas tetapi komperehensif dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti dan enak dibaca.

Ciri-ciri metode penafsiran ijmali

  1. mufasir lansung menafsirkan Al-Quran secara ringkas dari awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penatapan judul.

3, Metode Tafsir Maudu’i

Metode tafsir maudu’i yaitu metode yang menafsirkan dengan menghimpun semua ayat dari berbagai surah yang berbicara tentang satu masalah tertentu yang dianggap menjadi tema sentral. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Syekh Mahmud Syaltut (1960 M) ketika menyusun tafsirnya, Tafasir Al-Quran al-Karim. Sebagai penerapan ide yang dikemukakan oleh asy-Syatibi (w 1338 M), ia berpendapat bahwa setiap surah walaupun maslah yang dikemukakan benda-benda namun ada satu tema sentral yang mengikat dan menghubungkan maslah-masalah yang berbeda tersebut.

  1. 4.      Metode Penafsiran Muqaran

Tafsir muqaran menurut al-Farmawi adalah metode tafsir yang menjelaskan ayat-ayat Al-Quran berdasarkan kitab-kitab yang ditulis oleh para mufasir dengan cara menghimpun sejumlah ayat Al-Quran pada satu pembahasan kemudian mengungkap dan mengkaji pendapat para mufasir sekitar ayat tersebut melalui kitab-kitab mereka, baik dalam kalangan  salafi maupun kalangan khalafi, baik cara penafsiran mereka bil-manqul maupun bil-ma’sur.

Quraish Shihab mendefinisikan Tafsir muqaran dengan membandingkan ayat-ayat al-Quran yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi yang berbicara tentang masalah atau kasus yang sama atau diduga sama. Termasuka dalam objek bahasan metode ini adalah membandingkan ayat-ayat Al-Quran dengan hadis Nabi saw yang tampaknya bertentangan, serta membandingkan pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran ayat-ayat Al-Quran.

Kajian perbandingan ayat dengana ayat tidak hanya terbatas pada analisis redaksionalnya semata, tetapi mencakup perbandingan antar kandungan makna dari setiap ayat yang dibandingkan dan harus ditinjau dari beberapa aspek yang menyebabkan timbulnya perbedaan tersebut seperti asbabun-nuzul, pemakaian kata, dan susunannya dalam ayat, serat situasi dan kondisi ketika ayat tersebut diturunkan.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa metode muqaran adalah:

  1. Membandingkan teks-teks ayat al-Quran yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, atau memiliki redaksi yang berbeda bagi kasus yang sama.
  2. Membandingkan ayat-ayat al-Quran dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan.
  3. Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkannya.

Hermeneutika

Secara  etimologi hermeneutik berasal dari kata Yunani hermeneuein yang artinya menafsirkan, dan hermeneia sebagai derivasinya yang berarti penafsiran (Palmer 1969:13). Secara terminologi, kata Latin hermeneutica sendiri diperkenalkan pada abad ke-17 oleh seorang teolog asal Straburg, Jerman, bernama Johann Konrad Dannhauer (1603-1666), dan telah tumbuh menjadi berbagai aliran yang berbeda-beda (Bowie 1998: viii), termasuk didalamnya adalah bidang-bidang teologis, yuridis, dan filosofis. Hanya saja, berbeda dengan pengertian dan lingkup studi kontemporer mengenai hermeneutika.

Sebagai bagian mitologinya, konon, istilah hermeneutika ini memiliki kaitan khusus dengan sosok yang bernama Hermes dan ada pula yang mengatakan seorang dewa (Nabi Idris) utusan dari dewa Olimpus. Sebagai perantara dewa Hermes harus bisa menguasai bahasa para dewa, memahami dan menafsirkan apa yang ada dibenak para zat yang kekal itu, sekaligus mampu menerjemahkan serta mengartikulasikan maksud mereka pada mahluk hidup yang ada di dunia.

Secara sederhana, hermeneutika diartikan sebagai seni dan ilmu untuk menafsirkan teks-teks yang punya otoritas, khususnya teks suci.[2] Dalam definisi yang lebih jelas, hermeneutika diartikan sebagai sekumpulan kaidah atau pola yang harus diikuti oleh seorang mufassir dalam memahami teks keagamaan.[3] Namun, dalam perjalanan sejarahnya, hermeneutika ternyata tidak hanya digunakan untuk memahami teks suci melainkan meluas untuk semua bentuk teks, baik sastra, karya seni maupun tradisi masyarakat.     

1. Sejarah dan Perkembangan Hermeneutika

 Pada awalnya, hermeneutika digunakan oleh kalangan agamawan. Pada abad ke-17 kalangan gereja menerapkan telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks Injil. Karena terdapat kesulitan dalam memahaminya maka, oleh para pendeta pada saat itu menjadikan hermeneutik sebagai solusi pemecahannya.

Memasuki abad 20, kajian hermeneutic semakin berkembang. Oleh Bapak hermeneutik modern Fredrich Schleiermacher menjadikan objek daripada hermeneutik tak sekedar pada sastra dan teks suci, ia memperluas cakupannya sebagai metode interpretasi karena sangat besar artinya bagi keilmuan dan bisa diadopsi oleh semua kalangan.Cakupannya meliputi Kitab suci, sastra, sejarah, hukum dan filsafat.

2.      Model-model Hermeneutika

  •   hermeneutika objektif

Dikembangkan tokoh-tokoh klasik, khususnya Friedrick Schleiermacher (1768-1834), Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Emilio Betti (1890-1968).[4] Menurut model pertama ini, penafsiran berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarangnya, sebab apa yang disebut teks, menurut Schleiermacher, adalah ungkapan jiwa pengarangnya, sehingga seperti juga disebutkan dalam hukum Betti, apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan atas kesimpulan kita melainkan diturunkan dan bersifat intruktif.[5]

  • hermeneutika subjektif

Dikembangkan oleh tokoh-tokoh modern khususnya Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dan Jacques Derida (l. 1930).[6] Menurut model kedua ini, hermeneutika bukan usaha menemukan makna objektif yang dimaksud si penulis seperti yang diasumsikan model hermeneutika objektif melainkan memahami apa yang tertera dalam teks itu sendiri. Stressing mereka adalah isi teks itu sendiri secara mandiri bukan pada ide awal si penulis. Inilah perbedaan mendasar antara hermeneutika objektif dan subjektif.

Dalam pandangan hermeneutika subjektif, teks bersifat terbuka dan dapat diinterpretasikan oleh siapapun, sebab begitu sebuah teks dipublikasikan dan dilepas, ia telah menjadi berdiri sendiri dan tidak lagi berkaitan dengan si penulis. Karena itu, sebuah teks tidak harus dipahami berdasarkan ide si pengarang melainkan berdasarkan materi yang tertera dalam teks itu sendiri. Bahkan, penulis telah “mati” dalam pandangan kelompok ini. Karena itu pula, pemahaman atas tradisi si pengarang seperti yang disebutkan dalam hermeneutika objektif, tidak diperlukan lagi.

  •   hermeneutika pembebasan

Dikembangkan oleh tokoh-tokoh muslim kontemporer khususnya Hasan Hanafi (l. 1935) dan Farid Esack (l. 1959). Hermeneutika ini sebenarnya didasarkan atas pemikiran hermeneutika subjektif, khususnya dari Gadamer. Namun, menurut para tokoh hermeneutika pembebasan ini, hermeneutika tidak hanya berarti ilmu interpretasi atau metode pemahaman tetapi lebih dari itu adalah aksi. Menurut Hanafi, dalam kaitannya dengan al-Qur`an, hermeneutika adalah ilmu tentang proses wahyu dari huruf sampai kenyataan, dari logos sampai praksis, dan juga tranformasi wahyu dari pikiran Tuhan kepada kehidupan manusia. Hermeneutika sebagai sebuah proses pemahaman hanya menduduki tahap kedua dari keseluruhan proses hermeneutika. Yang pertama adalah kritik historis untuk menjamin keaslian teks dalam sejarah. Ini penting, karena tidak akan terjadi pemahaman yang benar jika tidak ada kepastian bahwa yang difahami tersebut secara historis adalah asli. Pemahaman atas teks yang tidak asli akan menjerumuskan orang pada kesalahan.

3.      Problem Hermeneutika

Dalam kaitannya sebuah metode hermeneutika Dalam ruang lingkup kerjanya salah satunya  teks hingga menghasikan makna yang dituju. Satu hal yang utama dan urgensi penafsiran yang tepat adalah agar seseorang bias mengambil keputusan yang tepat tidak hanya menyangkut wilayah keagamaan, tetapi juga sangat diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan yang konkret.[7]

Generalisasinya, tampaklah sebuah problemnya bahwa hermeneutika yang lahir sebagai metode penafsiran akankah menjawab menjawab kehendak “pesan” Tuhan dalam kitab suci tersebut dengan kita mengetahui sebelumnya bahwa “Bahasa” Tuhan berbeda dengan manusia namun, sang Hermes (Nabi Idris) berusaha merekonstruksi “wahyu” menjadi bahasa yang kata-kata yang terbungkus dalam makna namun, dapat difahami bagi penduduk bumi.

Di sisi lain, bahwa mengingat bahasa manusia begitu beragamnya, sedangkan setiap bahasa mencerminkan pola kebudayaan tertentu, maka terjadi permasalahan kembali jika harus hermeneutika menjadi metodologi dalam kajian al-Qur’an. Misalnya, al-Qur’an yang berbahasa Arab, apa yang menjadi jaminan sebuah komunikasi terhindar dari salah faham?. Bisakah kita menangkap gagasan Muhammad Rasulullah melalui sepotong-sepotong kalimat yang terhimpun dalam Hadits?. Namun, pada intinya sebagaimana pernyataan oleh Komaruddin Hidayat dalam buku Memahami Bahasa Agama bahwa proses pemahaman dan penafsiran menjadi inti persoalan dalam sebuah pesan untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat yang hidup dalam dunia yang berbeda.


[1] Muhammad Baqir as-Sadr, pendekatan Tematik Terhadap Tafsir Al-Qur,an, Jurnal ‘Ulumul Qur’an,Vol. 1, hal. 28

[2] Kurt F. Leidecker, “Hermeneutics” dalam Dagobert Russel (ed), Dictionary of Philosophy, (New York, Adams & Co, 1976), 126.

[3]  K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, I, (Jakarta, Gramedia, 1981), 225.

[4]  Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas, terj. Ahsin Muhammad, (Bandung, Pustaka, 1985), 9-10. Rahman memasukkan juga Emilio Betti dalam tradisi hermeneutika objektif  ini.

[5] Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics, (London, Routlege & Kegan Paul, 1980), 29. Referensi lain, lihat Nasr Hamid Abu Zaid, Isykâliyât al-Ta`wîl wa Aliyât al-Qirâ’ah, (Kairo, al-Markaz al-Tsaqafi, tt), 11; Sumaryono, Hermeneutik, (Yogya, Kanisius, 1996), 31.

[6] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas, 13;

[7] Komaruddin Hidayat, Memahami bahasa Agama, hal 75.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s